Wednesday, September 26, 2007

Peralihan Minyak Tanah ke Gas Bermasalah

DEDI MULYADI:
Kebagusan Wates, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Peralihan Minyak Tanah ke Gas Bermasalah

Peralihan minyak tanah ke gas atau elpiji menimbulkan masalah bagi masyarakat kecil. Melalui televisi saya menyaksikan masalah itu terjadi hampir di setiap daerah. Di tempat tinggal saya di kawasan Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ibu-ibu antre minyak tanah yang sangat dibutuhkan untuk memasak. Walaupun ada, harga minyak tanah mahal dan sulit dicari.

Sementara itu, pemberian/penyaluran gas belum merata dan kurang didukung infrastruktur yang memadai. Program peralihan ini kurang disosialisasikan kepada masyarakat. Akibatnya, masyarakat seakan-akan dipaksa untuk menuruti kebijakan pemerintah yang tidak populer itu. Bukan hal yang mudah bagi masyarakat untuk mengubah kebiasaan menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar untuk memasak yang sudah bertahun-tahun dilakukan.

Sebelum mengeluarkan kebijakan peralihan pemakaian minyak tanah ke gas, seharusnya pemerintah mencari solusi/jalan keluar bagi mereka yang terkena dampak peralihan itu. Berapa banyak agen minyak tanah, pengecer, perajin kompor, dan pedagang kecil yang omzetnya turun atau kehilangan mata pencarian akibat kebijakan itu. Bukankah masyarakat perlu dilindungi, bukan dibiarkan menjadi penganggur, yang kini jumlahnya mencapai ribuan akibat peralihan minyak tanah ke gas.

Sebagai warga negara Indonesia yang merasa prihatin terhadap kebijakan tersebut, saya mohon kepada pemerintah agar bersikap arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Pemerintah seharusnya melakukan perencanaan dan melibatkan masyarakat agar program tersebut berjalan sesuai dengan yang diharapkan bersama sehingga tidak mengorbankan/menyusahkan masyarakat. Jangan jadikan rakyat yang sudah susah sebagai obyek setiap mengambil keputusan.

No comments: